Produksi mahal tiap kampanye
Talent, studio, kru. Diulang tiap kali butuh materi baru, padahal kampanye datang terus.
Untuk pemilik bisnis dan UMKM
Tiap kampanye butuh video baru, dan sewa talent plus studio terasa berat kalau harus diulang terus. Di webinar 2 jam ini kamu lihat satu foto produk diubah jadi product sheet, lalu jadi iklan 15 detik dengan beberapa versi pembuka untuk dites.
Kenal situasi ini?
Talent, studio, kru. Diulang tiap kali butuh materi baru, padahal kampanye datang terus.
Padahal iklan butuh beberapa versi untuk dites, supaya tahu pembuka mana yang membuat orang berhenti.
Semua dikerjakan orang yang sama, di sela urusan stok, pesanan, dan pelanggan.
Logo meleot, kemasan berubah bentuk, warna melenceng. Rasanya lebih aman tidak pakai AI sama sekali.
Akar masalahnya
Kalau model hanya diberi satu foto, ia menebak sisi lain produkmu. Hasilnya: tulisan berubah, tutup berganti warna, logo bergeser. Product sheet memberi patokan dari beberapa sisi, jadi tiap shot memakai kemasan yang sama.
Anatomi iklan 15 detik
Iklan pendek yang rapi punya urutan: perhatian, manfaat, bukti, penawaran. Begitu storyboard-nya jadi, membuat versi B cukup dengan mengganti shot pertama, bukan memproduksi ulang semuanya.
Ganti shot pertama, uji pembuka lain
Klip contoh di atas berasal dari produk berbeda, untuk menggambarkan jenis shot di tiap detik.
Cara lama vs dengan AI
Metode
Video AI kelihatan "AI banget" karena orang lompat langsung ke prompt. Di jagonya.ai, semua kelas memakai empat langkah yang sama.
Tujuan, penonton, format, dan durasi. Lima menit di sini menghemat puluhan render gagal.
Kunci wajah, kemasan produk, dan lokasi dengan sheet referensi. Wajah tidak lagi berubah tiap shot.
Storyboard dan shot list pakai bahasa sutradara: subjek, aksi, kamera, cahaya, suasana.
Generate, suara dan lipsync, edit, label konten AI, lalu tayang 9:16.
Demo utama untukmu
Kamu lihat prosesnya langsung di layar. Bawa pulang urutannya, lalu pakai untuk produkmu sendiri.
Kemasan, logo, dan warna dikunci dari beberapa sisi.
Detail, produk di tangan, tekstur, pemakaian, penawaran.
Uji murah dulu sebelum render kualitas penuh, supaya kredit tidak terbuang.
Potongan, musik, teks harga dan ajakan, lalu export 9:16.
Juga dibahas di webinar
Mau dikerjakan sendiri atau nanti diserahkan ke tim dan agensi, kamu tahu apa yang harus diminta dan bagaimana menilai hasilnya.
Galeri
Semua dibuat tanpa kamera, tanpa studio, tanpa talent sungguhan. Ketuk video untuk memutar.
Founder
Jeremy membangun jagonya.ai dengan cara yang ia ajarkan. Website ini, kontennya, avatar yang mewakilinya, sampai suara yang kamu dengar di kelas, semuanya dibuat pakai AI. Tanpa kamera, tanpa studio, tanpa kru.
Itu bukti paling jujur yang bisa kami tunjukkan: kalau satu orang bisa menjalankan brand ini dengan AI, kamu juga bisa menjalankan kontenmu.
Tiket webinar
FAQ
Tetap. Alurnya sama untuk produk fisik, makanan dan minuman, sampai tempat usaha: brief, kunci identitas produk, rencana shot, lalu olah jadi video.
Product sheet membuat kemasan jauh lebih konsisten, tapi tetap perlu dicek per shot. Detail kecil seperti tulisan kadang perlu diperbaiki saat edit. Cara mengeceknya ditunjukkan di webinar.
Bisa. Alurnya dirancang untuk dikerjakan satu orang dari laptop. Kalau nanti punya tim atau agensi, brief yang sama tinggal diserahkan.
Boleh, selama kamu mengikuti syarat pemakaian tiap tools, aturan iklan dan label konten AI di platform, serta tidak memakai wajah, suara, atau merek orang lain tanpa izin.
Tidak. Kami mengajarkan cara membuat video iklannya. Hasil penjualan tergantung produk, penawaran, pasar, dan usahamu sendiri.
Belum. Tiket tidak termasuk langganan atau kredit tools pihak ketiga. Kami tunjukkan cara uji murah dulu sebelum render kualitas penuh supaya kredit lebih hemat.
Tiket Rp97.000 untuk satu sesi online sekitar 2 jam via Zoom. Batch pertama: Kamis, 19 November 2026. Tanggal pasti, jam, dan link dikirim lewat WhatsApp.